Apa Fungsi Nada dalam Puisi?

Edgar Allen Poe telah terkenal karena menampilkan nada menyeramkan dalam puisi.

Fungsi nada dalam puisi sebagian besar dimaksudkan untuk mengatur mood atau perasaan puisi bagi pembacanya. Nada biasanya memungkinkan penyair untuk mengontrol cara puisi dibaca, atau sikap pembicara dalam puisi terhadap subjek puisi. Dua puisi dapat ditulis tentang bunga, misalnya, tetapi dengan dua nada yang sangat berbeda digunakan untuk membuat satu puisi yang sangat positif dan yang lainnya menjadi karya yang jauh lebih menyedihkan. Cara penyair mengontrol nada biasanya melalui pilihan kata dan perumpamaan.

Nada memungkinkan penyair untuk mengontrol bagaimana puisi dibaca dan diterima oleh pembaca.

Nada dalam puisi, seperti halnya karya sastra lainnya, mengacu pada keseluruhan sikap yang tampaknya diekspresikan dalam karya dan suasana hati yang diciptakannya. Penting untuk dicatat, bagaimanapun, bahwa nada dan suasana hati tidak identik, tetapi nada itu biasanya digunakan sebagai cara untuk mengatur suasana hati dalam sebuah karya. Nada dapat dibentuk dan dikembangkan dalam beberapa cara yang berbeda, tergantung pada bagaimana puisi itu ditulis dan seberapa mapan pembicara dalam struktur puisi itu.

Puisi mungkin memiliki nada komedi.

Karya Edgar Allen Poe, misalnya, terkenal sebagai contoh tampilan yang sangat baik dari nada muram atau menyeramkan dalam puisi. Poe sering menciptakan nada ini dengan menetapkan pembicara di dalam puisi, sering menggunakan sudut pandang orang pertama, dan menggunakan pilihan kata dan suara pembicara. Penggunaan kata-kata seperti “takut”, “takut”, “panik”, jijik”, dan “horor” semuanya dapat digunakan untuk secara cepat dan tegas membangun rasa paranoia atau teror dalam sebuah karya. Dengan memanipulasi nada dalam puisi, penyair seperti Poe dapat membangun mood tertentu untuk sebuah puisi dan mengekspresikan mood tersebut tanpa benar-benar menyuruh pembaca untuk merasakannya.

Nada beberapa puisi mungkin mencerminkan kecemasan atau kesedihan penulis.

Dua puisi, misalnya, keduanya dapat ditulis tentang bunga, tetapi nada setiap puisi bisa sangat berbeda dan menciptakan suasana hati yang berbeda untuk setiap puisi. Puisi pertama mungkin menggambarkan bunga itu sebagai “tinggi dan bercahaya, dengan kelopak merah tua yang berkilauan dengan cahaya redup embun pagi;” ini menggunakan nada romantis untuk mengatur suasana hati yang positif. Bunga serupa dalam puisi lain, bagaimanapun, dapat digambarkan sebagai “memutar dari tanah seperti cakar keriput dari beberapa predator simian yang terkubur, kelopak merahnya berkilau seperti lantai rumah potong hewan;” ini menggunakan nada seram untuk mengatur suasana hati yang sangat negatif. Kedua pernyataan ini menggambarkan bunga merah, tetapi dengan memanipulasi nada masing-masing contoh, suasana hati yang dibentuk oleh deskripsi menjadi sangat berbeda.

December 11, 2021 6:07 pm