Apa Fungsi Imaji dalam Puisi?

Banyak karya sastra baik yang profan maupun yang menakutkan menggunakan gambaran sebuah kastil di atas bukit untuk menyampaikan daya tahan sosok-sosok ilahi.

Pencitraan dalam puisi umumnya berfungsi sebagai tulang punggung atau batang landasan puisi karena gambar digunakan untuk membangkitkan respons tingkat nalar pembaca. Citra dan citraan memiliki banyak konotasi dan makna yang berbeda, tetapi bagi penyair mereka menyampaikan pengalaman manusia yang lengkap dalam sedikit kata. Tidak selalu gambaran mental, citra dalam puisi dapat berbicara dengan salah satu dari panca indera dan biasanya disampaikan oleh bahasa kiasan.

Puisi mencoba menyampaikan citraan dengan cara yang lebih ringkas daripada sastra tradisional.

Studi tentang puisi apa pun sering dimulai dengan citranya. Sebagai istilah umum, citra adalah penggunaan bahasa untuk mewakili tindakan, perasaan, dan pengalaman sensorik dan ekstra-indera lainnya. Penyair Tony Hoagland menggambarkan puisi sebagai karya dari banyak tingkatan. Tingkat retorika meliputi materi intelektual murni, sedangkan diksi adalah tempat munculnya suara penyair. Bagi Hoagland, gambar adalah bagian konkret, atau level usus, dari puisi yang terasa paling nyata bagi pembaca.

Citraan puitis mencoba memunculkan emosi tertentu dalam diri pembaca.

Penyair dan kritikus Amerika Ezra Pound pernah menggambarkan citra puitis sebagai sesuatu yang menangkap kompleks emosional dan intelektual dalam sekejap. Pencitraan menggambarkan apa yang dialami manusia secara emosional, intelektual, dan konkrit pada saat tertentu. Momen menjadi beku dalam kata-kata, memungkinkan pembaca untuk tinggal dan mengalami kembali setiap kali dia membaca puisi itu.

Pencitraan dalam puisi memungkinkan pembaca untuk mengalami kembali puisi itu setiap kali dia membacanya.

Kata-kata yang digunakan untuk membekukan sebuah gambar bukanlah sebuah stand-in sederhana untuk sebuah objek; mereka mengomunikasikan pengalaman manusia seutuhnya pada tingkat intelektual, sensual, dan emosional. Menangkap momen waktu adalah apa yang membuat citra dalam puisi pedih, dan kemungkinan kehilangan pengalaman memberikan kekuatan citra. Penyair harus membekukan gambar itu selengkap mungkin sehingga sesuatu yang sekilas dalam kenyataan, seperti makan permen atau melihat bintang jatuh, menjadi pengalaman jangka panjang yang dapat diingat kembali oleh pembaca berulang kali.

Imajinasi dalam puisi dapat melukiskan gambaran emosional karakter yang lebih terfokus.

Setelah gambar ditangkap secara tertulis, itu dapat dilihat sebagai literal, perseptual, atau konseptual. Pencitraan literal dalam puisi cenderung mengatur adegan, seperti melihat foto, dan konkret dan representasional. Gambar persepsi menarik salah satu dari panca indera dan dikemas dalam perangkat puitis seperti metafora atau simbol, misalnya menggambarkan blackberry memiliki daging yang manis. Gambar konseptual seperti kastil Tuhan sulit untuk divisualisasikan, tetapi pembaca mungkin memiliki gambaran tentang apa itu.

Penyair biasanya menyampaikan citra dalam karyanya dengan menggunakan bahasa kiasan dan perangkat puitis seperti metafora, simbol, dan metonimi . Sebuah gambar dapat menarik mata, rasa, dan sentuhan. Gambar juga bisa abstrak, menarik bagi intelek pembaca, dan kinestetik, atau berkaitan dengan gerakan tubuh. Dalam banyak kasus, gambar tumpang tindih dan digabungkan; sehingga citra kinestetik juga dapat berupa visual atau taktil.

Tepat sebelum Perang Dunia I, sekelompok penyair yang dikenal sebagai imajiner menjadi terkenal. Ezra Pound, Amy Lowell, dan Hilda Doolittle adalah anggota terkemuka. Para imajiner menggunakan pidato sehari-hari daripada mengandalkan bahasa kiasan dan percaya bahwa gambar yang dapat diakses, jelas, dan langsung sangat penting untuk puisi. Gerakan ini mempengaruhi citra dalam puisi sepanjang abad ke-20 dan dapat dilihat di antara puisi objektivis dan Beat.

December 10, 2021 2:07 pm